Sabtu, 31 Januari 2026
Senin, 09 Juni 2025
Rabu, 01 Januari 2025
BERAMAL
Nats Bacaan Matius 25 : 40
“Dan Raja itu akan
menjawab mereka : Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu
lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah
melakukannya untuk Aku”.

Pernahkah kita mempunyai rencana bahwa di tahun 2025 ini akan melakukan sesuatu yang
berguna bagi saudara kita yang paling hina yang sangat membutuhkan dari kita ?
Dalam
iman Kristiani diajarkan bahwa iman atau percaya tanpa perbuatan itu mati atau
sia-sia. Percaya kepada Tuhan Yesus harus diwujudkan dengan berbuat sesuatu
atau menolong kepada sesama yang membutuhkan.
Di
jaman akhir atau jaman penghakiman disebutkan bahwa semua bangsa akan
dikumpulkan dan mereka akan dihakimi oleh Sang Raja (Anak Manusia) dan
ditempatkan di sebelah kanan dan kiri.
Kepada
yang duduk di sebelah kanan mereka akan diserahkan Kerajaan Sorga oleh karena
mereka telah berbuat sesuatu untuk YEsus dan dengan rendah hati mereka merasa belum
pernah berbuat apa-apa. Di seluruh hidupnya mereka telah banyak berbuat banyak
untuk Tuhan Yesus.
Sebaliknya,
yang duduk di sebelah kiri Sang Raja akan dimasukkan ke dalam siksaan yang
kekal, karena mereka tidak berbuat apapun kepada atau untuk Tuhan Yesus. Mereka
percaya tetapi tidak mengamalkan. Selama hidup mereka tidak berbuat apa-apa
untuk Yesus.
Nah,
marilah kita melihat diri kita sendiri. Mungkin kita telah merencanakan ini dan
itu. Tapi coba kita lihat apakah itu untuk diri kita sendiri atau untuk Yesus
atau ada yang untuk sesama yang membutuhkan ?
Dari
kisah di jaman penghakiman di atas kita mendapatkan pelajaran bahwa di tahun 2025
ini kita diberi kesempatan untuk berbuat sesuatu bagi Tuhan Yesus melalui sesama
yang membutuhkan.
Bagaimana
caranya ? Bisa dengan tenaga, pikiran, atau harta kita, atau apapun yang
diberikan Tuhan kepada kit aitu semua diberikan Tuhan semata-mata tidak untuk
diri pribadi tetapi juga untuk sesama yang membutuhkan.
Orang
yang demikian ini akan disebut berbagai karena Tuhan Yesus pernah berjanji yang
berbahagia ialah yang bertahan sampai akhir.
Tuhan
Yesus Memberkati.
Amin.
(S.Hs)
Doa :
Mampukanlah kami ya Tuhan Yesus,
untuk berbuat sesuatu bagi sesama yang membutuhkan. Amin.
Jumat, 27 Desember 2024
LOYALITAS
Nats Bacaan : Roma 12
: 11
Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan

Sebuah perusahaan swasta membutuhkan karyawan dengan kriteria : sehat jasmani dan rohani, tidak merokok, mampu bekerja secara bergiliran (shift), mampu bekerja dibawah tekanan, dan yang paling utama adalah loyal terhadap perusahaan. Itulah bunyi iklan di salah satu koran lokal.
Bukan hanya perusahaan itu yang membutuhkan orang-orang yang loyal dalam pekerjaan. Gereja juga membutuhkan orang-orang yang loyal dalam pelayanan. Dewasa ini banyak orang yang tidak loyal terhadap pekerjaan Tuhan. Kadang-kadang ada yang tidak mau dipindahkan untuk melayani ditempat terpencil, apalagi di tempat itu memiliki jumlah jemaat yang sedikit. Kitab Roma mengingatkan kita agar kita tidak mudah kendur dan melemah dalam kerajinan melayani, serta agar roh kita terus menyala-nyala dengan bersemangat melayani Tuhan (Roma 12 : 11).
Hendaklah semuanya memuji nama Tuhan, sebab hanya nama Nya yang tinggi luhur, keagunganNya mengatasi bumi dan langit (Mazmur 148 : 13). Loyal berarti setia kepada Tuhan dan setiap ajaran Nya. Di dalam loyalitas terkandung unsur bisa dipercaya. Jadi, bila Tuhan sudah mempercayakan pelayanan kepada kita, di mana pun tempatnya, kita harus mentaati perintah tersebut. Orang yang loyal terhadap Tuhan selalu tulus dan dapat dipercaya untuk mengemban tugas pelayanan yang telah dipercayakan kepadanya. Marilah kita selalu giat dan rajin dalam setiap pekerjaan Tuhan. Mintalah Tuhan memampukan kita untuk terus loyal dalam melakukan tugas kita sehingga kelak kuasaNya dinyatakan atas kehidupan kita. Hanya orang-orang yang loyal terhadap Tuhanlah yang akan merasakan kuasa Nya. (SEM)
Doa : Tuhan mampukan kami untuk terus loyal dalam melakukan tugas pelayanan. Amiin
Bersama Semesta Pujilah Tuhan
Haleluya! Pujilah TUHAN di sorga, pujilah Dia di tempat tinggi! (Mazmur 148:1)
Satu tahun
terdiri dari 365 hari dan 52 minggu, 8760 jam, 525.600 menit, 31.536.000 detik.
Kira-kira dalam kurun waktu yang demikian sudah berapa banyak kita memuji
Tuhan? Sebab tanpa terasa dalam hitungan hari dan waktu kita akan meninggalkan
tahun 2024 ini dan memasuki tahun penuh pengharapan di tahun 2025. Artinya
selama kita diberi nafas hidup oleh Tuhan, di tahun ini sudah berapa banyak
kita memuji nama-Nya selain dalam peribadatan yang kita ikuti setiap kalinya?
Pemazmur dalam
penghujung penutupan di akhir kitabnya, mengajak kita, manusia bahkan seluruh
alam semesta dan malaikat untuk memuji Allah. Kata “Haleluya” menjadi kata
pembuka dan penutup dari Mazmur 148 ini. Pemazmur mengajak seluruh alam semesta
dan yang ada di atas langit untuk mengarahkan pandangannya kepada Allah dan
memuji nama-Nya. Malaikat, matahari, bulan, bintang, langit, air yang ada di
atas langit, semua diajaknya untuk memuji Tuhan (ay. 1-6). Demikian pula yang
ada di bumi, seperti ular-ular naga, samudera raya, api, hujan es, salju,
kabut, angin badai, gunung, bukit, pohon-pohon, hewan, raja-raja dan para pembesar
di bumi, anak-anak sampai orang tua, semua diajaknya untuk memuji Allah (ay.
7-13). Seakan-akan Pemazmur ingin menggoncang seluruh alam semesta dengan
puji-pujian yang dahsyat dan luar biasa untuk Allah atas segala karya dan
perbuatan-Nya. Sebab memang sungguh besar dan luar biasa atas segala ciptaan Allah
bagi seluruh makhluk dan alam ini.
Di penghujung
akhir tahun ini tentu sudah banyak berkat yang kita terima dari Tuhan Yesus,
yang apabila mau dihitung satu persatu akan sulit sebab begitu banyaknya
berkat. Walau di sisi lain, mungkin di antara kita ada yang mengalami susah,
dukacita, dan kesedihan, namun demikian pasang surut kehidupan yang kita sudah
jalani sepanjang tahun ini, kiranya tidak menghentikan kita sebagai orang
percaya untuk terus memuji nama Tuhan, sebab banyak sudah perbuatan yang
dilakukan-Nya bagi kita. Oleh karena itu, layaklah Dia yang kita sembah di
dalam Yesus Kristus, Tuhan, kita puji nama-Nya.
Haleluya,
pujilah Dia senantiasa!
Doa:
Biarkanlah
aku selalu belajar setiap waktu memuji nama-Mu.
Kesetiaan di Tengah Tantangan
Bacaan: II Tawarikh 24:17-24, Mazmur 148,
Kisah Para Rasul 6:1-7, 7:51-60
Ayat Nats: "Tetapi Stefanus, penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah." (Kisah Para Rasul 7:55)

Ketika kita merayakan Natal, kita
diingatkan tentang kasih setia Allah yang mengutus Yesus Kristus ke dunia.
Bacaan hari ini mengajarkan bahwa kesetiaan kepada Tuhan sering kali membawa
kita pada tantangan, tetapi dalam semua itu, Tuhan tetap dimuliakan.
Raja Yoas, dalam bacaan dari II
Tawarikh, awalnya setia, tetapi ketika pengaruh buruk datang, ia meninggalkan
Tuhan dan bahkan membunuh Zakharia, nabi yang menegur dosanya. Hal ini
mengingatkan kita bahwa tanpa kesetiaan yang teguh, kita mudah terombang-ambing
oleh pengaruh dunia. Sebaliknya, Stefanus dalam Kisah Para Rasul menunjukkan keberanian
luar biasa. Ia tetap setia kepada kebenaran Tuhan, bahkan ketika menghadapi
kematian. Di tengah lemparan batu yang mengakhiri hidupnya, Stefanus tetap
memuliakan Tuhan dan mengampuni orang-orang yang menyakitinya.
Mazmur 148 mengajak kita untuk melihat
gambaran yang lebih besar: seluruh ciptaan dipanggil untuk memuji Tuhan. Dari
langit hingga samudera raya, dari burung-burung hingga binatang melata, dari
raja-raja hingga anak dara, semuanya ada untuk kemuliaan Allah. Bagaimana kita,
manusia yang diciptakan segambar dengan Allah, merespon panggilan ini?
Bayangkan sebuah lilin kecil di
tengah kegelapan. Lilin itu tampaknya tidak berarti, tetapi sinarnya mampu
menerangi ruangan gelap. Begitu juga hidup kita. Seperti Stefanus, kita mungkin
menghadapi kegelapan berupa tantangan, kesedihan, atau penganiayaan. Namun,
ketika kita tetap setia kepada Tuhan, hidup kita menjadi terang yang menyatakan
kemuliaan-Nya kepada dunia.
Natal adalah waktu untuk menyalakan
terang itu di hati kita. Kita diingatkan bahwa Yesus datang ke dunia untuk
membawa terang di tengah kegelapan dosa, dan sekarang, kita dipanggil untuk
menjadi pembawa terang itu. (DS)
Doa Singkat: Tuhan yang
setia, kami bersyukur atas terang kasih-Mu yang hadir dalam Yesus Kristus.
Ajarkan kami untuk tetap setia kepada-Mu, bahkan di tengah tantangan. Berikan
kami keberanian seperti Stefanus, yang memuliakan-Mu hingga akhir hidupnya.
Tolong kami agar hidup kami menjadi terang yang memuliakan nama-Mu. Dalam nama
Yesus, kami berdoa. Amin.
Minggu, 22 Desember 2024
Putra Sulung
Ia-lah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ia-lah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu ( Kolose 1: 18)
Bacaan:
Kejadian 25:19-28
Mazmur
113
Kolose
1: 15-20
Menjadi
anak sulung ada enak dan tidak enaknya. Sebagai anak sulung, ia menjadi
kebanggaan dari orangtuanya. Apa yang dikerjakan oleh si sulung senantiasa
mendapat perhatian dari orangtuanya.
Bagaimana
sekolahnya, bekerjanya atau keluarganya. Orangtua senantiasa menceritakan
tentang si sulung kepadabanyak orang. Demikian juga bagi adik adiknya, si sulung selalu menjadi
teladan.
Itu
seperti kakak, contoh kakakmu dan masih banyak lagi ungkapan orangtua tentang
si sulung bagi adik adiknya.Sebagai yang disoroti, dijadikan teladan tentu
tidak mudah untuk menjalani.
Dari
kecil ia sudah mendapat tuntutan yang lebih dibanding yang lain. Bahkan
terkadang hidupnya sudah diatur sedemikian rupa oleh orangtua. Ia harus menjadi pibadi yang memuaskan
keinginan orangtua dan menjadi kebanggaannya.
Karena
itu, si sulung berupaya lebih dan lebih karena ia menjadi teladan bagi adik
adiknya.
Tuhan
Yesus adalah Anak Sulung, Ia adalah kepala tubuh yaitu jemaat. Sebagai Anak
sulung Allah, Tuhan Yesus menjadi teladan bagi semua bangsa. Pengorbanan yang
dilakukan olehNya mendamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya. Melalui salib
dilaluinya karya penyelamatan umat manusia.
Manusia
terperosok dalam dosa beroleh anugerah penyelamatan oleh karenaNya. Sebagai
yang Sulung, Ia tak bercacat, Ia sempurna.Karya-Nya yang nyata yang dirasakan
oleh umat manusia.
Karenanya
pujian kemuliaan diagungkan baginya. Sebagaimana diungkapkan dalam Mazmur 113,
pujian kepadanya dan nama-Nya dimasyurkan. Karya penyelamatan-Nya begitu mulia.
Ia
yang hadir dalam rupa manusia , Ia yang merendahkan diri sedemikian rupa. Itu
semua dilakukan karena kasih dan cinta-Nya pada ciptaan-Nya. Semua itu agar
manusia yang hina diangkat begitu mulia.
Betapa
mulianya kita sebagai yang kemudian dengan melihat Anak Sulung Allah dalam
karya-Nya. Teladan sudah diberikan, pengorbanan telah dinyatakan. Langkah kita
kedepan hanya tertuju pada-Nya, kita akan meniti turut dalam langkah langkah
ajaib-Nya.
Kiranya
Tuhan memampukan kita untuk terus fokus memandang Dia dan mengikutnya.







